Monday, 8 April 2013

Kecamatan Ligung

Jaman dahulu kala ada 3 orang masing-masing bernama Buyut Alimah, Buyut Rasmi dan Buyut Kawi. Buyut Alimah berasal dari Cirebon, Buyut Rasmi berasal dari Cirebon juga, sedangkan Buyut Kawi berasal dari Beusi. Tiga orang ini merupakan “kejaran” orang kompeni Belanda, juga tiga orang ini pernah mengikuti zaman perang disebut perang Kedongdong di bawah pimpinan Pangeran Untung Surapati dari Mataram yang bermaksud ingin mengusir Belanda. Kemudian Buyut Kawi ini mempunyai adik perempuan yang bernama Buyut Barang, sehingga Buyut Barang ini dinikai Oleh Buyut Sidum yang berasal dari Cisambeng. Jadi, orang yang pertama menginjakkan kaki di Ligung ini hanya ada lima orang. Hanya saja yang dua orang yaitu Buyut Alimah dan Buyut Rasmi tinggal di hutan Bantarwaru yang sekarang disebut dengan Sawah Slamet yang artinya selamat dari kejaran kompeni Belanda. Kemudian yang tiga Buyut Kawi bertempat tinggal di Ligung, kemudian semakin lama semakin banyak pengunjung sehingga mencapai tujuh puluh tiga (73) Kepala Keluarga yang berdiri dari murid-muridnya sendiri. Pada waktu itu pada tahun 1731, kemudian diadakan musyawarah pembentukan Kepala Desa sehingga sepakat untuk memilih Buyut Alimah untuk menjadi Kepala Desa hanya saja pada waktu itu antara Ligung dan Bantarwaru hanya dikepalai satu Kepala Desa saja. Dan yang memberi nama Desa Ligung sendiri yaitu Buyut Alimah, asal kata Ligung yaitu karena diambil dari FAMILI dan AGUNG. Pada waktu itu rumah dan pekarangan masih sedikit dan sebagian besar masih hutan. Ada beberapa peristiwa penting yang terjadi di Ligung, diantaranya : Pada tahun 1890 membangun sebuah pintu air besar yang dikenal sampai dengan sekarang dengan nama PUTERAN waktu itu Kepala Desanya Bapak Warja. Pada tahun 1901 diadakan penebangan hutan untuk dijadikan pesawahan dan pekarangan juga membangun Lumbung Negara, pada saat itu Kepala Desanyna Bapak Surangggandanu. Pada tahun 1917 memindahkan alun-alun desa dan Masjid yang asalnya dekat sungai Cikeruh yang sekarang menjadi pasar, waktu itu kepala Desanya Bapak DASMAR. Pada tahun 1926 melaksanakan Gotong Royong yang sekarang menjadi Kampung Loji dan Kedunganyar yang disponsori oleh Buyut Pemuruyan dan Buyut Mami waktu itu kepala Desanya SAKIM. Pada tahun 1950 pemindahan pasar yang asalnya berada di Blok Bengkok yang sekarang telah dijadikan SD (Sekolah Dasar) II Waktu itu kepala Desanya Bapak Suganda. Pada tahun 1982 terjadi pemekaran desa Ligung menjadi dua desa yaitu Desa Ligung Lor, waktu itu kepala Desanya Bapak Sahlan. Pada tahun 1986 diadakan listrik masuk desa waktu itu Kepala Desanya Bapak Darma.
Continue reading Kecamatan Ligung

Sejarah Majalengka

Kabupaten Majalengka, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Majalengka. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Indramayu di utara, Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan di timur, Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Tasikmalaya di selatan, serta Kabupaten Sumedang di barat. Kabupaten Majalengka terdiri atas 26 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Pusat pemerintahan di Kecamatan Majalengka. Kantor Bupati terletak di Pendopo, selatan dari Alun-alun Majalengka berdekatan dengan Masjid Agung Al Imam. sejarah Pada zaman kerajaan Hindu sampai dengan abad XV di wilayah Kabupaten Majalengka terbagi menjadi 3 kerajaan : (1) Kerajaan Talaga dipegang oleh Sunan Corenda atau lebih dikenal dengan sebutan Sunan Parung (2) Kerajaan Rajagaluh dipegang oleh Prabu Cakraningrat (3) Kerajaan Sindangkasih, rajanya adalah seorang puteri bernama Nyi Rambutkasih. Terdapat banyak cerita rakyat tentang ke-3 kerajaan tersebut yang sampai dengan saat ini masih hidup di kalangan masyarakat Majalengka. Selain cerita rakyat yang masih diyakini juga terdapat situs, makam-makam dan benda-benda purbakala, yang kesemuanya itu selain menjadi kekayaan daerah juga dapat digunakan sebagai sumber sejarah. Kerajaan Sindangkasih rajanya seorang putri yang memiliki paras nan cantik dan molek bemama Nyi Rambutkasih adalah seorang yang beragama Hindu fanatic .Kerajaan ini terletak secara geografis berada di Majalengka . Nama Sindangkasih diambil dari Mandala Sindangkasih yang semula tempat merupakan tempat kedudukan Ki Gedeng Sindangkasih yang dijabat oleh puteranya yang bernama Ki Ageng Surawijaya . Semula nama tempat ini terdapat di wilayah Cirebon yang kemudian dibawa oleh penguasa ;yang dise.but Ki Gedeng Sindangkasih yang lama berkedudukan di Sumedang Larang yaitu Majalengka sekarang (menurut De Pacto Gelu dan Talaga) .Nyi Gedeng Sindangkasih atau disebut juga Nyi Ambetkasih dan lebih dikenal lagi adalah Nyi Rambutkasih adalah seorang ratu yang cantik molek, memiliki kemampuan dan keterampilan yang tinggi, dikagumi serta sangat dihormati oleh rakyatnya adalah istri Prabu Siliwangi. la adalah orang yang dipercaya oleh Prabu Siliwangi untuk memimpin rombongan yang bermaksud pindah ke Pakuwan Pajajaran (Bogor sekarang), kemudian ia menjadi penguasa di Sindangkasih sebagai ibukota Sumedang Larang. Penguasa di Sindangkasih sebagaimana disebutkan di atas adalah Nyi Rambutkasih. Sejak sekian lama Nyi Rambutkasih mencium akan datangnya Pangeran Muhamad disertai ayahnya Pangeran Panjunan di Sindangkasih dalam rangka mengadakan kegiatan penyebarluasan ajaran agama Islam dan kegiatan ini disambut baik oleh, masyarakat setempat. Di Padepokan Sindangkasih, Rambutkasih tengah mengadakan pertemuan dengan semua perwira tinggi kerajaan sehubungan dengan adanya kegiatan yang dilakukan oleh Pangeran Muhamad. Ketika rapat khusus itu sedang berlangsung datanglah Pangeran Muhamad bersama rombongan dengan maksud ingin ketemu dengan Nyi Rambutkasih selaku ratu di Kerajaan Sindangkasih. Dengan ucapan Alhamdulillahirrobiralamin, yang maksudnya Pangeran Muhamad merasa bersyukur serta bahagia dapat bertemu dengan seorang putri cantrk dan sebagai penguasa di Sumedang Larang, tetapi dengan tidak diduga dalam sekejap Nyi Rambutkasih menghilang. Bersamaan dengan itu terlontarlah ucapan Pangeran Muhamad : “Madya Langka” yang artinya putri cantik telah hilang (tidak ada), sehingga dari kata-kata itu kemudian orang menyebutnya Majalengka. Sejak itulah kemudian Pangeran Muhamad yang didampingi ayahnya Pangeran Panjunan memerintah di Sumedang Larang/Sindangkasih, selanjutnya pada tanggal 10 Muharam 910 H yang bertepatan dengan tanggal 7 Juni 1490 M, sesuai dengan perintah Sunan Gunung Jati yang berkedudukan di Cirebon menetapkan Pangeran Muhamad. Pada masa tuanya Pangeran Muhamad menetap di lereng gunung yang berada di sebelah selatan Majalengka sampai akhir hayatnya gunung tersebut kini dikenal dengan sebutan Gunung Margatapa. Adapun Siti Armilah istri Pangeran Muhamad dimakamkan di belakang pendopo (kantor Pemda) Kabupaten Majalengka, yang dikenal dengan sebutan Nyi Gedeng Badori. Morfologi Keadaan morfologi dan fisiografi wilayah Kabupaten Majalengka sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh perbedaan ketinggian suatu daerah dengan daerah lainnya, dengan distribusi sebagai berikut : Morfologi dataran rendah yang meliputi Kecamatan Kadipaten, Panyingkiran, Dawuan, Kasokandel, Jatiwangi, Sumberjaya, Ligung, Jatitujuh, Kertajati, Cigasong, Majalengka, Leuwimunding dan Palasah. Kemiringan tanah di daerah ini antara 5%-8% dengan ketinggian antara 20-100 m di atas permukaan laut (dpl), kecuali di Kecamatan Majalengka tersebar beberapa perbukitan rendah dengan kemiringan antara 15%-25%. Morfologi berbukit dan bergelombang meliputi Kecamatan Rajagaluh dan Sukahaji sebelah Selatan, Kecamatan Maja, sebagian Kecamatan Majalengka. Kemiringan tanah di daerah ini berkisar antara 15-40%, dengan ketinggian 300-700 m dpl. Morfologi perbukitan terjal meliputi daerah sekitar Gunung Ciremai, sebagian kecil Kecamatan Rajagaluh, Argapura, Sindang, Talaga, sebagian Kecamatan Sindangwangi, Cingambul, Banjaran, Bantaruje
Continue reading Sejarah Majalengka

Seminar Budaya Majalengka

Kebudayaan sangatlah berpengaruh terhadap karakteristik bangsa, maka dari itu banyak orang yang secara langsung mempertahankan kebudayaan yang makin hari makin dilupakan oleh sebagian orang. salah satu cara untuk memberikan kekuatan yang besar terhadap pertahanan budaya yang mulai hilang, maka harus ditampakan dari mulai dini. ini di buktikan pada 15 Januari 2011, aula DISPORABUDPAR majalengka menjadi saksi puluhan siswa dan siswi seluruh SMA di Majalengka mengikuti seminar budaya yang dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Majalengka Bandung. Acara dibuka oleh Kepala DISPORABUDPAR, Drs. H. Rieswan Graha, MM yang mewakili Bupati Majalengka. "acara ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada para siswa tentang budaya-budaya majalengka yang mulai terlupakan", papar Ketua Umum HIMMAKA Bandung, Iir Hariman, dalam sambutannya. Terdapat banyak sekali penampilan-penampilan dari beberapa kebudayaan khas majalengka, seperti Gemyung, Tari Beber dan Batik Majalengka. Seminar Budaya inipun mempunyai tujuan untuk mengenalkan Batik Majalengka yang tidak banyak warga majalengka tahu adanya, disinilah para siswa diberikan pengenalan tentang pembuatan Batik oleh Bpk. Heri Suhersono yang menggagas batik majalengka. acara ini sekaligus memberikan wadah bagi para siswa untuk mengenal budaya melalui media yang dimiliki HIMMAKA Bandung, dan menjadikan sebuah perkumpulan para siswa dalam MASCOT atau Majalengka Student Community yang pernah diadakan saat kegiatan LDKS 2010. semoga acara seminar budaya menjadi daya dorong para generasi muda untuk lebih melestarikan dan menjaga kebudayaan leluhur, karena pentingnya sebuah karakter bangsa.
Continue reading Seminar Budaya Majalengka

Bakti Mahasiswa Untuk Majalengka

Mahasiswa sebagai insan akademis tentulah memiliki tanggungjawab untuk mengembangkan dan memajukan daerah. Maka pemikiran dan tercipta daya kretifitas untuk membangun daerah yang dicintainya akan senantiasa ada. Hal tersebut tentunya tidak bisa dilaksanakan secara individu, tetapi harus dilakukan bersama-sama dengan segenap komponen yang ada, baik itu di level formal maupun informal. Himpunan Mahasiswa Majalengka (HIMMAKA) Bandung mengadakan suatu kegiatan mulia yaitu bakti sosial, bertemakan “Memasyarakatkan Mahasiswa” yang dilaksanakan pada 19 juni sampai 9 juli 2011 di Desa Randegan Wetan Kecamatan Jatitujuh Kab. Majalengka. Kegiatan yang dibuka oleh Wakil Bupati Majalengka ini mempunyai tujuan untuk menumbuh kembangkan rasa dan jiwa sosial anggota HIMMAKA Bandung terhadap daerah asalnya yakni Kabupaten Majalengka. Kegiatan yang merupakan ikhtiar menciptakan kader anggota HIMMAKA yang memiliki kepekaan terhadap gejala sosial dalam kehidupan masyarakat maupun dalam lingkup pemerintahanan. Kemuadian menyalurkan dedikasi mahasiswa sebagai agen perubahan (agent sosial of change), ditujukan untuk kemajuan daerah. Selama 21 hari, mahasiswa berbaur dengan masyarakat dan aparat pemerintahan setempat mengadakan kerja bakti sosial. Khususnya dalam hal kegiatan yang merupakan tugas pokok dan fungsi sejumlah lembaga birokrasi di Kab. Majalengka. Selama pelaksanaannya, kegiatan ini mengemas sejumlah mata acara yang cukup menarik dan mengesankan. Sedikitnya terdapat tiga bentuk kegiatan yang dikembangkan, yakni bidang pendidikan, bidang keagamaan dan bidang kemasyarakatan serta pemerintahan. Bidang pendidikan diaplikasikan lewat kegiatan memberi pengajaran bagi siswa di Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI), Kursus Bahasa Inggris dan Arab, serta pengenalan Teknologi Informasi (IT). Bidang keagamaan meliputi kegiatan ceramah (pengajian) rutin, memberi pengajaran mengaji kepada anak-anak, diskusi dengan remaja mesjid, perlombaan keagamaan dan tabligh akbar. Bidang kemasyarakatan dan pemerintahan meliputi kegiatan penyuluhan manajemen karang taruna (KT), penyuluhan prilaku hidup bersih dan sehat, penyuluhan UU pernikahan, pelatihan pemberdayaan analisis potensi SDA dan SDM Desa Randegan Wetan, perlombaan atau hiburan serta kerja bakti bersama masyarakat setempat. Semoga apa yang sudah dilakukan HIMMAKA Bandung bisa mendorong kembali semangat membangun desa bagi masyarakat setempat dan memberi manfaat untuk kemajuan pembangunan Desa Randegan Wetan dan Majalengka.
Continue reading Bakti Mahasiswa Untuk Majalengka

Bunderan Munjul Majalengka

Majalengka, Kota Angin yang tetap sangat indah bagi warganya. Tersusun rapi setiap persimpangan jalan, budaya sunda yang amat dekat dengan tanah ini. Daerah yang masih berusaha meremajakan setiap susunan masyarakatnya, menjadikan Majalengka sebagai salah satu kabupaten yang sangat potensial. Terdapat banyak potensi seperti, tempat wisata sampai kebudayaan yang jarang sekali dilihat orang luar. mari kita mengenal lebih banyak tentang Kabupaten Majalengka. Siapa yang tidak mengenal taman yang menyambut setiap warga luar kota ke kawasan Pemda Majalengka, yaitu Bunderan Munjul dan taman disekitarnya. Terlihat sangat sederhana, namun tempat ini dijadikan tempat yang paling nyaman bagi warga Majalengka. Tak ada yang menyangka bila disiang hari tempat ini sangatlah gersang dan sepi, hanya terdapat kendaraan-kendaraan yang melintas dari arah Kadipaten atau sebaliknya. Tapi bila sore hari menjelang maghrib, masyarakat tumpah ruah ditempat ini. Anak-anak sampai orang tua semuanya menyempatkan diri berkumpul dan menghabiskan waktu di Bunderan kebangaan Kepala Daerah ini.
Bukan hanya masyarakat, namun para pedagangpun meramaikan hangatnya Bunderan yang ditengahnya terdapat patung ikannya. Saat sore tiba, air yang menyejukan tanah panas Majalengka menambah kenyamanan warga menghabiskan waktunya. Anak-anak berlarian, para remaja berkumpul sambil berfoto-foto didepan patung ikan. Tidak jarang banya kelompok-kelompok atau komunitas berkumpul disini, namun jangan khawatir bila kehabisan tempat untuk nongkrong. Karena terdapat tempat alternatif lainnya, tidak jauh karena terdapat disekitar Bunderan Munjul. Seperti Taman Kota Majalengka yang berada disebelah Bunderan Munjul, sangat indah dan nyaman untuk berkumpul bersama keluarga dan menghabiskan waktu. Keindahan Majalengka tetap harus dijaga, karena sudah kebiasaan disaat sore banyak orang berkumpul maka banyak pula sampah-sampah yang membuat Bunderan Munjul ini terlihat tidak baik. Maka dari itu, selain kita menikmati keindahan haruslah ditambah dengan cara menjaga keindahannya. Semoga dengan adanya taman-taman di Kabupaten Majalengka, membuat warga semakin cinta dengan tanah ini.
Continue reading Bunderan Munjul Majalengka