Panas
terik matahari yang menghembuskan debu-debu jalanan, udara yang gersang
menghembus dan melewati lorong-lorong bawah kendaraan roda empat dijalanan yang
berdebu. Keringat mengucur dari kening yang berlumuran debu padat karena
berkreatifitas untuk pekerjaannya, hal yang amat mengesankan bagi setiap orang
yang masih banting tulang untuk memenuhi kehidupan keluarganya dirumah.
Sering
dianggap enteng, namun pekerjaan ini penuh dengan tantangan yang sangat
berliku. Melebarkan alas yang terbuat dari papan triplek, mengasah pisau
kecilnya, meniapkan lem perekat untuk hasil dari kreativitasnya dan menulis
diatas nota yang menjadi tanda pembayaan bagi orang yang membutuhkan servicenya.
Kalau
saja disetiap sudut jalan terdapat para kreatifitas ini, maka semua orang yang
melintas dijalanan pasti akan terpukau dengan kemampuannya membuat
stempel-stempel. Banyak orang mengira membuat stempel itu hanya memakai alat
tehnologi yang sedang marak-maraknya sekarang, namun sebuah keajaiban dengan
tangan-tangan ajaib yang bisa mengubah dunia. Para
pengrajin stempel yang sering kita lihat dipingiran jalan ini memiliki
keajaiban yang tidak pernah kita bayangkan sebagai manusia. Bekerja keras untuk
menafkahi keluarga menadi motifasi tersendiri bagi para pengrajin ini.
Sering
sekali kita lihat diberbagai tempat, kita melihat ukiran kayu yang ditempelkan
ke selembar kertas dan menghasilkan gambar ataupun logo. Itulah stempel yang
dihasilkan oleh tangan-tangan manusia yang kreatif, meskipun sepele tapi cara
pembuatannya yang sulit menjadi nilai plus bagi mereka para pengrajin stempel.
Meskipun
panas, gerah, bosan, namun para pengrajin ini tetap menunggu setiap orang yang
membutuhkan tenaga kreatifitas mereka dalam membuat stempel-stempel. Walau
materi yang mereka dapat tidaklah banyak ataupun sepadan dengan banyaknya
tenaga yang mereka keluarkan, namun kepuasan melayani dan membantu orang-orang
yang butuh akan kreatifitasnya sudah membuat mereka merasa bangga
karya-karyanya slalu dipakai oleh orang-orang yang memakai service mereka.
Jangan
pernah menyepelekan pekerjaan ini, karena sulitnya proses pembuatan stempel
yang biasa dan yang bagus sama-sama berat tingkat kesulitannya. Salah langkah
sedikit saja sudah buat hasil keseluruhan jelek dan membutuhkan waktu lagi.
Tingkat
kesulitan yang rentan pada kesalahan, panas terik menahan udara matahari,
mengusap keringat yang mengucur dikening, hanya dengan harga Rp. 17.000
pengrajin ini dapat upah dari kucuran keringatnya.
Berankat
dari rumah pagi hari, menyambut siapapun orang yang melewati tempatnya mencari
nafkah. Meskipun panas, jarang ada yang membutuhkan pelayanannnya namun para
pengrajin ini tetap menunggu setiap orang yang akan datang. Dengan wajah penuh
doa, pengrajin stempel ini terus menunggu.
Dengan
seritan pisau diatas cetakan logo
yang akan dijadikan stempel, dengan membalurkan telunjuknya kesebuah lem, dan
menunggu cetakannya selesai. Betapa teliti pengrajin ini menyelesaikan
pekerjaannya membuat sebuah stempel, tak kenal lelah saat dia terletih untuk
menyelesaikan pekerjaannya.
Perjuangan
hidup yang mengesankan bagi pekerjaan ini, karena keajaiban tangan manusia yang
sangat magis bias mengubah segalanya.


.jpg)
0 Comments:
Post a Comment